Mengapa Katalog?

Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan munculnya hama penyakit akibat perubahan iklim telah memengaruhi produksi kopi di seluruh dunia. Ketika petani memahami bahwa mempertahankan dan menanam pepohonan di perkebunan kopi ternyata bermanfaat, mereka akan mencari cara untuk mempertahankan dan mengintroduksi tutupan tajuk di dalam dan sekitar kebun sehingga menjelma menjadi sistem agroforestri yang memainkan peran krusial dalam menghadapi dampak perubahan iklim serta menjadi sumber pendapatan tambahan. Meskipun demikian, petani dan para praktisi belum memiliki informasi yang memadai dalam memilih pohon naungan kopi yang bermanfaat bagi kopi, menambah dan menjadi sumber pendapatan, serta bermanfaat bagi satwa liar dan lingkungan.

Katalog Pohon Naungan ini bertujuan untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut -memberikan informasi kunci tentang jenis-jenis pohon yang telah ditemukan di dalam dan sekitar perkebunan kopi kepada petani dan tim pendamping teknis. Katalog ini dapat menjadi panduan penting dalam merancang kebun agroforestri kopi, mulai dari menyediakan informasi perihal ciri-ciri utama jenis pohon naungan, kegunaan dan manfaatnya, hingga petunjuk perbanyakan dan perawatannya.

Katalog ini bertujuan untuk mempromosikan keragaman jenis pohon naungan pada perkebunan kopi di Indonesia. Katalog dapat digunakan sebagai informasi dasar perbanyakan pohon naungan atau materi pelatihan tentang pentingnya pohon naungan sebagai komponen dalam budidaya kopi yang berkelanjutan.

Mengapa Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir kopi terbesar di dunia dengan hampir 2 juta petani yang mengelola 1,2 juta hektar kebun kopi1. Negara ini juga termasuk salah satu kawasan dengan keanekaragaman tumbuhan paling tinggi, meskipun demikian banyak tumbuhan dan satwa endemik yang nyaris punah akibat hilangnya habitat2. Di Indonesia, kopi umumnya dibudidayakan di pedesaaan terpencil. Keberlanjutan kebun kopi memberi dampak pada kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan dan juga ekonomi dan lingkungan.

Pohon naungan pada kebun kopi menyediakan sumberdaya bagi petani, satwa liar, dan tanaman kopi itu sendiri, serta merupakan bagian tak terpisahkan dari aspek keberlanjutan. Pemerintah, LSM, dan perusahaan trading kopi internasional mendistribusikan beberapa jenis pohon naungan secara gratis, namun frekuensi dan distribusinya tidak menentu. Lembaga-lembaga ini umumnya mendistribusikan pohon naungan yang menambatkan nitrogen -terutama Lamtoro (Leuacena spp)- pohon kayu dan pohon buah. Katalog ini bertujuan menyediakan referensi untuk memilih, membiakkan, dan mempromosikan jenis-jenis pohon lainnya di seluruh kawasan perkebunan kopi di Indonesia yang sangat luas.

Produksi kopi utama di Indonesia adalah Arabika (Coffea arabica) dan Robusta (Coffea canephora) yang tumbuh di bawah jenis pohon naungan yang berbeda karena perbedaan persebaran dan ketinggian tempat. Robusta, yang memiliki kadar kafein tinggi namun kurang memiliki aroma yang diminati sebagaimana Arabika, produksinya terkonsentrasi di Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu dengan ketinggian antara 40 hingga 900 meter di atas permukaan laut. Kawasan tersebut memproduksi ~60% dari total produksi kopi di Indonesia. Kopi Arabika tumbuh di tempat yang lebih tinggi, ~1.000 hingga 1.500-meter, terutama di Sumatera Utara, Aceh, dan Jawa3.

Bagaimana penerapan pohon naungan di perkebunan kopi Indonesia saat ini?

Petani membudidayakan kopi dalam sistem perkebunan yang beragam dan dapat dikategorikan menjadi sistem agroforestri kompleks, agroforestri sederhana, dan monokultur4. Agroforestri kompleks, termasuk di dalamnya adalah sistem agroforestri tradisional, umumnya memiliki 6 hingga 30 lebih jenis pohon di setiap kebun yang membentuk tajuk multistrata dan memberikan naungan pada kopi. Sistem ini umumnya terletak di dekat rumah petani dan memiliki perawatan yang minim. Jarak tanam kopi dan pohon naungannya tidak teratur. Tanaman tahunan dan tanaman lainnya dibudidayakan bersama dengan kopi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber kebutuhan subsisten, ritual budaya dan/atau diperdagangkan. Di level kebun, meskipun produksi panen kopinya rendah, sistem agroforestri kompleks ini dianggap produktif dan berkelanjutan.

Untuk meningkatkan produksi kopi, sistem agroforestri yang disederhanakan diimplementasikan oleh petani. Ciri khas sistem ini adalah adanya kurang dari 5 jenis pohon naungan di tiap kebun yang membentuk strata tajuk tunggal. Pohon naungan dan kopi memiliki jarak tanam yang seragam dan biasanya perawatan rutin dilakukan. Tajuk pohon naungan didominasi oleh pohon legume (Fabaceae) yang menambatkan nitrogen, mengatur intensitas sinar matahari, dan menyediakan pakan bagi ternak. Jenis-jenis legume juga memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati dengan menarik dan mempertahankan keberadaan komunitas serangga, burung, dan mamalia yang dapat mencegah serangan hama. Pohon buah yang dapat dikonsumsi atau dijual juga banyak ditemukan dalam sistem agroforestri ini.

Meskipun sistem agroforestri sederhana dipromosikan secara luas oleh pemerintah dan LSM, sistem monokultur banyak ditemukan di beberapa daerah. Di Sumatera Utara, contohnya, banyak petani yang belum memahami pentingnya pohon naungan dalam sistem perkebunan kopi.

Memilih pohon naungan yang tepat

Sistem agroforestri memberikan manfaat lingkungan yang signifikan meskipun terdapat sejumlah kompromi yang harus diperhatikan ketika memberikan masukan kepada petani agar mereka benar-benar mempertimbangkannya. Kopi naungan biasanya memiliki produktifitas yang lebih rendah daripada kopi tanpa naungan (full sun coffee) serta memiliki biaya penyiangan lebih tinggi. Sementara itu, serangan hama mungkin lebih rendah dan predator alami lebih berlimpah di sistem kopi naungan sehingga membutuhkan lebih sedikit pestisida5. Kompromi ekonomi harus dipertimbangkan untuk mendapatkan kombinasi pohon naungan yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus menghasilkan tambahan nilai ekonomi. Berkaitan dengan tingkat pendapatan, ketepatan waktu juga sangat krusial, misalnya, jenis-jenis pohon kayu pertukangan lebih lamban dalam menghasilkan pendapatan daripada pohon buah atau variasi pohon naungan lainnya. Perbedaan tata kelola lahan dan kebutuhan tenaga kerja juga penting untuk diperhatikan karena pengelolaan naungan sangat membutuhkan tenaga kerja saat berumur tua, membutuhkan keterampilan dan pelatihan khusus dalam perawatan. Kompromi ini mesti diperhatikan untuk menyeimbangkan kebutuhan petani dengan peluang-peluang yang dapat mempercepat perubahan pengelolaan kebun dalam rangka mencapai tujuan kelestarian lingkungan yang lebih luas.

Dokumen hidup

Katalog ini memuat informasi tentang jenis-jenis pohon yang sering ditemukan dalam sistem perkebunan kopi di Indonesia. Pohon-pohon naungan ini sengaja ditanam oleh petani dan atau beregenerasi secara alami. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kelompok tani, ahli agroforestri, dan kajian literatur yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Katalog ini berbentuk dokumen hidup yang akan diperbaharui apabila informasi dan hasil-hasil penelitian terbaru tentang pohon naungan mulai tersedia.


1 Neilson, J. et al ,2015. Towards a more competitive and dynamic value chain for Indonesian coffee-Working Paper #7. Prepared for the World Bank, Washington DC.

2Sodhi, N. S., Koh, L. P., Brook, B. W., & Ng, P. K. (2004). Southeast Asian biodiversity: an impending disaster. Trends in ecology & evolution, 19(12), 654-660.

3Ministry of Agriculture. 2019. Tree Crop Estate Statistics of Indonesia 2018-2020.

4Hulupi R, Martini E. 2013. Pedoman budi daya dan pemeliharaan tanaman kopi di kebun campur. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program.

5Johnson, M. D., J. L. Kellermann, and A. M. Stercho. "Pest reduction services by birds in shade and sun coffee in Jamaica." Animal conservation 13, no. 2 (2010): 140-147.